Memegang Secercah Lilin
Hidup memang tak berhenti dari kejutan. Apa yang terjadi esok ataupun lusa menjadi misteri tersendiri yang akhirnya kita akan melaluinya.
Dulu, aku tidak pernah menyangka bisa diamanahi memegang jabatan yang tinggi di organisasi SMA. Malahan ketika awal MPLS, aku ada niatan untuk tidak ikut OSIS lagi, karena sudah capek dengan dua tahun hiruk-pikuk OSIS SMP sebelumnya. Menjadi wakil ketua, kemudian menjadi ketua, kala itu membuatku terbiasa dengan segala permasalahan OSIS waktu itu. Dan sebenarnya ku tak ingin itu terjadi lagi di SMA.
Namun pikiranku berubah ketika pendaftaran calon pengurus OSIS kala itu dibuka, ketika awal kelas 10. Entah dapat bisikan apa, aku jadi malah ada niatan untuk daftar lagi jadi pengurus OSIS. Oke singkat cerita aku diterima dan menjalani kehidupan sebagai pengurus OSIS SMA, waktu itu ku ditempatkan di Sekbid 4, pembinaan prestasi akademik, seni, dan olah raga sesuai bakat dan minat (hahaha ku masih ingat kepanjangannya).
Pada saat kelas 11, ditawarilah aku untuk menjadi bakal calon ketua OSIS, dan anehnya ku menyetujui itu haha. Seleksi balontos pun berjalan dan menghasilkan tiga kandidat kala itu, salah satunya aku.
Waktu itu, keinginan untuk menjadi ketua OSIS semakin meningkat, padahal dulu ketika awal kelas 10 tidak ada niatan sama sekali untuk itu. Aku mengharap kemenangan, tapi apa daya ku hanya mendapat perolehan suara kedua terbanyak. Alhasil ku jadi Ketua 1.
Namun, itulah kunci sebenarnya. Mungkin Allah telah mempersiapkan rencana yang baik untukku kala itu. Kebetulan aku ikut juga IKMAL, rohis di SMA. Ketika kelas 10 aku masuk biro keilmuan. Saat menjelang pergantian kepengurusan kelas 11, ternyata posisi ketua biro kaderisasi masih kosong. H-2 mubes aku ditawari untuk itu. Dan tak tahu mengapa, aku menyanggupi wkwk. Padahal, bisa saja aku menolak dengan alasan sudah menjadi ketua 1 di OSIS. Tapi Allah tak menakdirkan demikian. Dan lebih parah lagi, biro kaderisasi itu punya tugas yang cukup berat dan program kerja yang banyak pula, dan aku bisa-bisanya menyanggupi itu haha.
Tapi, dari situlah ku belajar sangat banyak hal. Dari kaderisasi ku belajar merangkul anggota IKMAL, mengayomi adik kelas, menjalankan proker, memberikan ide, arahan, saran, dan membangun ukhuwah dalam keluarga yang solid. Dan ku waktu itu membuat rencana bahwa kaderisasi dijadikan model bagi biro lain dalam hal ukhuwah dan kekompakan. Alhamdulillah, itu dapat tercapai, terbukti dengan angka voting biro yang paling solid, kaderisasi memperoleh angka 76,2% Ya, walaupun sering diabaikan oleh anggota dan lain sebagainya, tapi alhamdulillah itu dapat dijalani dengan baik.
Dan ku jadi teringat kata seseorang, bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menghasilkan pemimpin. Alhamdulillah, anggota-anggota kaderisasi berhasil menjadi pemimpin. Ada yang jadi ketua IKMAL, ketua biro syiar, bahkan ada pula yang menjadi ketua umum OSIS, lebih tinggi dari "bapak"-nya setahun lalu haha. Namun, gantinya ada anak keilmuan yang harus ditarik jadi ketua kaderisasi akhirnya, yang kebetulan juga dia pernah pegang proker kaderisasi sebelumnya.
Bayangkan jika waktu pemilihan ketua OSIS, aku terpilih menjadi ketua umum. Otomatis ku tak bisa jadi ketua kaderisasi, toh di posisi sekarang sebagai ketua 1 saja, ada yang protes kenapa aku bisa jadi ketua kaderisasi, yang akhirnya mengakibatkan rangkap jabatan. Untungnya sekarang baik di OSIS maupun di IKMAL sudah demisioner, jadi bisa tenang menikmati damainya dunia wkwk.
Oh iya karena aku mengurus kaderisasi, bukan berarti aku mengabaikan tugas di OSIS sebagai ketua 1. Mungkin akan ku ceritakan lain waktu dan di artikel yang berbeda, bagaimana hiruk-pikuk di OSIS wkwk.
Yang jelas, jangan rangkap jabatan, karena memang lelah dan sangat-sangat membuat kepala pusing haha. Cukup diriku yang merasakan bagaimana rasanya wkwk. Salam!

Komentar
Posting Komentar