Menerka-Nerka Masa Depan Sang Lebah

 

An-Nahl, sebuah lembaga dakwah fakultas yang menaungi mahasiswa Muslim SITH-R. Tidak seperti LDF lain yang sudah lama berkembang, An-Nahl ini baru berdiri akhir Oktober 2020 oleh angkatan 2019 sehingga menjadikan An-Nahl sebagai LDF termuda (setidaknya hingga tulisan ini dipublikasikan).

Sebelum dibentuk, Muslim SITH-R dan SITH-S sama-sama berada di bawah naungan Al-Hayaat, tetapi karena perbedaan kampus dan kegiatan antara kedua "sub-fakultas" ini, maka dibentuklah An-Nahl untuk SITH-R. Begitulah kira-kira yang diberitahu oleh kating terkait sejarah singkat An-Nahl karena aku sendiri angkatan 2021 yang tidak ikut mendirikan LDF ini.

Namun, ketika aku iseng mendaftarkan diri menjadi calon ketua angkatan LDF bersama kader GAMAIS TPB dari fakultas lainnya dengan masing-masing LDF, ternyata An-Nahl ini "sebatang kara". Belum mempunyai logo, media sosial, dan kegiatan yang jelas. Ketika sudah terpilih, aku langsung membentuk Badan Pengurus Angkatan agar nantinya program yang diadakan An-Nahl berjalan secara terstruktur. Walaupun saat itu kami belum punya program yang jelas, tetapi dengan adanya kepengurusan ini, diharapkan menjadi pondasi yang baik ke depannya.

Meski aku akui progres yang aku dan teman-teman yang lain buat lumayan lambat, tetapi perlahan-lahan aku dan An-Nahl '21 yang lain ingin menujukkan eksistensi "Pasukan Lebah" yang satu ini. Semenjak membentuk kepengurusan pada November 2021, kami telah menjalankan program pertama yakni NARJI (An-Nahl bersama mengaji) sejak Januari 2022 dan berlangsung selama seminggu sekali hingga sekarang. Lalu, diikuti dengan sayembara dan voting penentuan logo pada Februari 2022, hingga kami merilis logo dan akun Instagram resmi pada Maret 2022.

Peran kami yang awalnya hanya mengurusi An-Nahl '21 perlahan bergeser menjadi An-Nahl secara menyeluruh. Walaupun kami sering berkomunikasi dengan kakak tingkat terkait perizinan sayembara logo dan pengumumannya, tetapi kami yang mengelola media sosial dan menjalankan program yang ada. Terlebih sampai dipublikasikannya tulisan ini, belum ada Ketua An-Nahl dan badan pengurus secara resmi dan menyeluruh, sehingga mau tidak mau, kami An-Nahl '21 yang harus menentukan nasib LDF ini ke depannya. 

Mungkin suatu saat nanti, bisa saja ada kejelasan terkait kepengusan ini, seperti misalnya angkatan atas yang mengambil alih kepengurusan. Jika seperti itu, kemungkinan besar, area gerak angkatan 2021 akan berkurang terutama terkait keberjalanan program. Kecuali jika pertama, memang BPA angkatan 2021 dibiarkan tetap ada dan diberi keleluasaan dalam menjalankan kegiatan. Atau yang kedua, misalkan angkatan atas yang memegang kepengurusan, tetapi dalam teknis pelaksanaannya diserahkan kepada kami. Namun, kendala lain dari kedua opsi ini adalah komunikasi antara kedua belah pihak, mengingat kegiatan akademik yang berbeda sehingga ditakutkan komunikasinya tidak terlalu lancar yang menyebabkan lebah sulit untuk "terbang jauh".

Kemudian, yang menjadi terkaan saat ini adalah keberadaan Muslim ITB Jatinangor (MIJ) yang lebih dulu berdiri yang pastinya memiliki massa yang beririsan dengan massa An-Nahl. Walaupun sudah ditegaskan bahwa An-Nahl akan diproyeksikan "hanya" menargetkan massa TPB SITH-R untuk menghindari konflik kaderisasi dengan MIJ, tetapi tetap saja nantinya kepengurusan An-Nahl (yang bukan TPB, karena TPB kemungkinan beum jadi pengurus) akan bersinggungan dengan MIJ. Ketika mahasiswa SITH-R harus memilih apakah akan aktif di An-Nahl atau MIJ. Perlu dipikirkan jalan keluarnya seperti apa, entah itu An-Nahl menjadi sub-organisasinya MIJ, An-Nahl dibuat independen dan sejajar dengan MIJ, atau An-Nahl menjalin kemitraan dengan MIJ. Mungkin ini yang menjadi PR entah bagi An-Nahl, MIJ, atau Kewilayahan. Yang jelas, aku sendiri tidak ingin An-Nahl ini menghilang begitu saja, bagaimanapun eksistensi "Sang Lebah" ini harus tetap ada dan diakui. 

"...Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia." (QS. An-Nahl/16:69)

Rujukan:

Profil Umum An-Nahl


Komentar