Penebar Benih Ilmu

Sang Ratu Rembulan yang sedang turun dari singgasananya.

 "Ilmu itu ibarat buah. Daging buahnya bisa kita makan, sedangkan bijinya bisa kita tanam untuk menghasilkan pohon baru. Jika ilmu itu hanya cukup untuk diri kita, kita hanya memakan buahnya saja. Namun, jika ilmu itu kita sebarkan ke orang lain, tentulah kita dapat memetik manisnya buah itu berkali-kali."

Kemarin aku mengikuti agenda sebuah organisasi dan kebetulan bertemu lagi dengan beberapa teman yang sudah lama tidak bersua. Salah satunya juga merupakan pembimbingku waktu itu dan kuanggap sebagai mentor dan inspirator.

Di sela-sela malam yang dingin ditemani Sang Ratu Rembulan yang sedang berjaya, beberapa orang dari kami berbincang-bincang terkait organisasi. Namun, seiring berjalannya malam, hanya tiga orang yang tersisa. Dan salah satunya mentorku ini. Jika sanak pembaca pernah membaca artikelku di blog ini dengan judul "Membuka Cakrawala Baru", orang yang dimaksud adalah sama.

Tiap kali bertemu beliau, pasti pembicaraannya selalu menarik dan aku selalu mendapat ilmu dan insight baru dari beliau. Entah itu dari pengetahuan dan pengalaman yang disampaikan. Begitupun dengan malam kemarin. Banyak yang dibahas malam kemarin, seperti politik, sosial, sejarah, dan lain sebagainya. Namun yang ingin aku bahas lebih mendalam adalah terkait ilmu yang disebarkan kepada orang lain.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disampaikan kepada orang lain. Tidak pernah ada ruginya membagikan ilmu yang kita punya kepada orang lain, malah hal tersebut menjadi kebaikan tersendiri bagi kita. 

Selain menambah wawasan bagi pendengar, menyebarkan ilmu juga menjadi bahan evaluasi bagi pembicara, terutama jika pendengar memberi feedback yang lebih baik. Ngomong-ngomong tentang evaluasi, aku jadi ingat kata-kata beliau "Ambil yang baiknya, jangan buang yang buruknya, tetapi kita evaluasi", kurang lebih seperti itu. Begitu mulianya peran para penebar benih ilmu ini, mereka menebar tunas-tunas pengetahuan seluas-luasnya agar banyak orang dapat merasakan manisnya buah ilmu. Ilmu yang disampaikan juga tidak terbatas hanya satu atau dua bidang saja, asal ilmu itu ada manfaatnya, bisa kita tebar dimanapun.

Selain itu, beliau juga membahas tentang cita-cita dan visi-misi hidup. Alangkah baiknya jika cita-cita kita tidak terbatas soal profesi, tetapi juga terkait langkah kita untuk menjadi bermanfaat bagi sistem (diri sendiri) dan lingkungan (orang lain). Boleh saja menjadikan profesi sebagai cita-cita, tetapi cita-cita tersebut hanya sebagai jalan untuk mewujudkan visi-misi hidup. Dalam hal ini terkadang ilmu organisasi banyak terpakai.

Dalam kehidupan ini, tidak ada yang tanpa balasan, termasuk menebar benih ilmu. Pastinya kelak para penebar benih ilmu ini akan dapat memetik manisnya kebaikan. Wallahu a'lam bisshawab. 

Izin mengutip kata-kata mentorku, "Tebarkan manfaat walau kadang ada anak panah yang menusuk sayap yang tak diharapkan tuk melemahkan".

Panjang umur pada penebar benih kebaikan! Manse!

Komentar